Archive for the Category ◊ Daily Life ◊

02 Jan 2012 Trip to Mongolia – Jangan ke Mongolia di winter ini

Dari semua record perjalanan tim saya, bisa saya anjurkan supaya anda menghindari trip/perjalanan ke Mongolia di saat musim dingin (terutama bulan desember dan januari) ini. Selain di sana sangat dingin sekali (suhu antara – 24 s/d – 30 derajat celcius), juga karena sangat berpotential flight anda akan dicancel. Saya menulis anjuran ini di sini terutama karena isu yang kedua (flight dicancel).

Minggu sebelum keberangkatan tim, saya sedang berada di Singapore untuk mengikuti Blackberry DevCon yang sedianya diadakan di Bangkok, tetapi karena banjir lokasi devcon pun dipindah ke Singapore, di area Suntec City tepatnya. Saya suka melihat berita di malam hari di hotel sebelum melanjutkan acara “malam” bersama teman2 saya. Saya sempat melihat di berita, sudah 6 hari terhitung sampai waktu itu (tanggal 8 desember 2011), banyak sekali penerbangan dari beijing ke utara dicancel karena kabut.

Kabut tersebut terjadi karena polusi udara yang sangat luar biasa yang terjadi di atas udara airport di Ulan Bator yang populer disebut Chinggis Khaan International Airport. Karena penurunan suhu yang sangat ekstrim sekarang ini, beberapa penduduk Mongolia yang tinggal di Ger (rumah tradisional Mongolia) membakar lebih banyak kayu dan batubara untuk menghangatkan badan. Juga perusahaan listrik di Mongolia yang menggunakan batu-bara sebagai bahan bakarnya, di musim dingin harus meningkatkan kapasitas produksi listrik yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan waktu yang lainnya karena kebutuhan penduduk Mongolia. Pembakaran dengan intensitas tinggi tersebut membuat Mongolia, yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi ini, tertutup oleh kabut asap yang tebal.

Saya juga sempat membaca kalau di Mongolia setiap tahunnya sekitar 1.600 orang meninggal karena polusi udara dan tahun ini kadar debu di udara sudah 35 kali melebihi batas ambang atas yang sudah ditetapkan oleh WHO. Bagaimana dengan Jakarta yah?

29 Oct 2011 Galau

Dalam sebulan terakhir, saya sangat intens ngobrol dengan beberapa anggota tim saya yang kebetulan semuanya wanita. Beberapa dari mereka minta pengunduran diri, ada yang minta unpaid leave dan juga ada yang sekedar pengen ngobrol karena merasa prestasinya di bawah harapan saya.

Dalam semua obrolan itu, ada satu kata yang selalu diulang-ulang oleh beberapa anggota tim wanita saya, yaitu GALAU.

Sungguh, saya kesulitan menempatkan diri saya di posisi mereka ketika mereka mengatakan “galau” itu. Saya merasa (apabila saya tidak salah mengartikan galau itu) sudah bertahun-tahun yang lalu saya terakhir merasa “galau”.

Galau yang saya tahu timbul karena kita kurang berdisiplin dalam mengatur perasaan kita. Pikiran-pikiran negatif yang pada awalnya kecil dibiarkan berputar-putar di kepala dan hati kita sehingga meng-kikis sisa-sisa konstruksi otak/hati kita yang seharusnya kita pakai untuk berpikir positif atau melakukan sesuatu yang lainnya (seperti memerintahkan kelenjar adrenalin untuk memacu kita sekedar keluar berolahraga, dan lain sebagainya).

Membiarkan pikiran negatif tumbuh seperti membiarkan kanker di dalam tubuh menyebar ke bagian tubuh yang lainnya. Kita merasakan bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi di dalam tubuh kita. Tetapi dengan penuh kesadaran kita malah membiarkannya, kita menikmatinya dan mengatasnamakan proses kenikmatan pembiaran itu sebagai suatu “romantika”, “perasaan”, “penghayatan”, “kontemplasi”, “meditasi” atau apapun. Membenarkan karena berbagai alasan bahwa hidup itu kadang kala harus lepas, tidak ada ikatan. Mengalir seperti air atau terbang ke arah angin membawa.

Jujur saja, saya tidak setuju konsep itu (ok lah, kadang-kadang saya setuju hidup perlu lepas dan biarkan mengalir dalam arti terkontrol dan terbatas). Kita menentukan nasib kita sendiri. Malah sebenarnya kita juga membantu menentukan nasib orang-orang yang kita sayangi (anak, istri, sahabat, dsb).

Ketika saya kecil, ketika saya merasa “tidak nyaman” saya akan menangis. Tetapi orang tua saya, dengan berbagai cara (mulai cara yang paling lembut penuh kasih sampai cara yang keras penuh tekanan fisik) membuat saya diam. Mereka mengajarkan supaya saya tidak terlalu diombang-ambingkan oleh perasaan. Saya harus mampu mengontrolnya.

Yah, begitulah. Tentu saja pendapat saya bukan yang paling benar. Tapi begini adanya yang saya rasa benar saat ini.

24 Sep 2011 Yang perlu dipersiapkan (Checklist) untuk trip keluar negeri

Saya tidak tahu apakah sharing tentang checklist things yang harus dipersiapkan ketika kita akan bepergian keluar negeri ini akan berguna atau tidak. Tetapi bagi saya, yang sangat tergantung akan checklist (daripada harus mengingat), berasa sangat penting dan sangat membantu saya untuk packing dan merasa tenteram selama perjalanan. Kadang2 ada beberapa hal yang sangat sepele, tetapi ketika kita membutuhkannya dan ada.. sesuatu yang sepele itu – bisa dikatakan – telah menyelamatkan hari saya.

Bagi saya yang sebagian besar perjalanan keluar negeri bukan untuk berlibur, tetapi bekerja, perasaan tenteram dan percaya diri sangat saya butuhkan. Saya tidak tahu yang akan saya temui di sana. Semakin semuanya well-planned, semakin baik bagi saya.

Saya di sini hanya akan mencantumkan beberapa list general saja, beberapa list yang khusus bagi anda tidak bisa saya cantumkan karena kebutuhan anda dan saya berbeda. Berikut beberapa things yang perlu anda bawa:

1. Passport dan Visa. Tentu saja dokumen ini mutlak apabila anda mau melakukan perjalanan keluar negeri. Untuk visa, memang tidak semua negara memerlukan visa, tapi passport wajib untuk selalu anda bawa.Untuk passport, saya suka memberi cover passport saya sehingga ada celah seperti dompet dimana saya bisa meletakkan sobekkan dokumen2 penting dalam perjalanan seperti kartu imigrasi, no bagasi saya dan lain-lain. Dokumen-dokumen itu biasanya saya segera pindah ke dalam tas saya begitu sampai ke hotel/tujuan supaya tidak hilang (apalagi kalau perjalanan anda dibiayai oleh kantor, anda harus memastikan dokumen-dokumen perjalanan anda aman sampai dilaporkan ke bagian GA kantor anda masing-masing).

2. NPWP. Sejak tahun 2011, tanpa menunjukkan NPWP anda sudah tidak perlu membayar biaya fiskal. Tetapi karena tas saya tidak berubah dari tahun 2007 sampai sekarang, NPWP saya masih saja ada di sana dan akan selalu saya bawa.

3. Tiket. Persiapkan tiket anda di dalam tas jinjing/ransel/tas lain yang anda selalu bawa ke kabin pesawat, supaya mudah untuk dikeluarkan waktu check-in di airport. Yang perlu ditunjukkan bersamaan dengan tiket waktu check-in adalah passport anda, airport tax dan (ini penting untuk anda perhatikan) kartu kredit yang dipakai untuk memesan tiket. Baca baik2 semua tulisan di dalam print out tiket anda apakah dicantumkan disana kartu kredit pemesan perlu di bawa atau tidak.

Saya mengalami kejadian di mana tiket dibooked oleh sekretaris kantor menggunakan kartu kredit CEO kantor saya. Waktu itu kami berombongan sama sekali tidak menyadari kalau di printout tiket terdapat tulisan yang menyatakan bahwa kartu kredit yang dipakai untuk membeli tiket harus ditunjukkan ke petugas counter tempat kami checkin, dan apabila kartu kredit tidak bisa ditunjukkan maka boarding pass tidak akan bisa dikeluarkan. Luar biasa ribet waktu itu karena kartu kredit CEO saya tidak kami bawa :)

4. SIM (Surat Ijin Mengemudi) Internasional. Tentu saja jika anda punya. Saya sendiri tidak punya walaupun sering mengemudi mobil sendiri di luar sana :)

5. Uang. Kebiasaan saya adalah dari membawa Rupiah, Mata Uang Negara Tujuan, USD (dolar amerika). Saya perlu rupiah untuk naik taxi dari rumah ke airport, membayar airport tax, dll. Mata uang negara tujuan sebaiknya memang sudah disiapkan sejak dari indonesia walaupun bisa juga anda tukarkan di airport negara tersebut. Biasanya untuk negara2 yang susah dicari mata uangnya di Indonesia (seperti MNT Mongolia) saya akan membawa USD dan ditukar di airport sana. USD selalu saya bawa karena diterima di semua airport ketika saya transit dan perlu membeli sesuatu.

6. ATM dan Kartu Kredit. 2 kartu yang sangat vital kegunaannya. Memang kita bisa membawa cash yang cukup, tetapi bisa jadi uang cash kita sangat kurang apabila tujuan kita adalah kota2 yang asyik buat belanja seperti Paris, Hongkong atau Singapore.

7. Dongle Internet Banking, misalnya Key BCA. Meskipun kita sedang di negara lain, kita tetap tidak bisa melupakan segala urusan rumah di negara sendiri. Mulai hal kecil seperti bayar arisan, listrik atau transfer ke rek. Istri/anak ketika mereka butuh tambahan duit. Internet bankin adalah solusi jitu dan praktis.

8. Buku Bacaan dan Permen. Light and inspiring book. Hindari permen penyebab batuk dan gemuk. Permen penyegar mulut juga sangat dianjurkan.

9. Foto Kopi KTP, KK, Surat Nikah, Akta Lahir. Saya selalu menyiapkan fotokopi dokumen-dokumen ini belajar dari pengalaman teman saya yang kehilangan paspornya ketika di Barcelona. Untuk pengurusan Surat pengganti paspor sementara (Surat Perjalanan Laksana Paspor) dibutuhkan copy dokumen-dokumen tersebut.

10. Kartu Nama. Sangat perlu apabila anda akan bertemu dengan kolega bisnis atau siapapun yang ingin berhubungan lebih lanjut dengan anda.

11. Print Out Konfirmasi Hotel, Invitation Letter, dll. Print out ini diberlukan ketika anda harus menghadapi seperti homeland security interview (waktu saya ke Amerika Serikat). Dengan menunjukkan semua dokumen pendukung ini, interview anda akan jadi lebih mudah tanpa pertanyaan yang sulit dan tentu saja lebih singkat.

12. Print Out Itinerary, jadwal meeting, peta/route menuju tempat2 penting dari hotel, dll. Ini memudahkan anda untuk memastikan jadwal perjalanan anda, apalagi jika harus ke banyak negara tujuan yang berbeda. Seperti misalnya ketika anda berlibur ke negara-negara Schengen, biasanya anda akan mengunjungi beberapa negara sekaligus (misalnya: Spanyol, Italy dan Perancis). Apabila ada hal-hal yang sangat time-sensitive, saya suka membuat alarm/reminder di calendar handphone saya supaya tidak lupa.

14. Ballpoint. Small thing yang sangat berguna. Mulai diperlukan untuk sekedar mengisi form custom di pesawat, menandai peta, mendaftar keanggotaan club hotel dan lain sebagainya. Pastikan tersedia dekat anda selalu.

15. Universal Converter (mudah2an namanya benar-benar Universal Converter). Adalah penyambung colokan listrik anda. Bagi anda yang sering melakukan perjalanan ke berbagai negara, Universal Converter ini sangat-sangat berguna untuk menyesuaikan colokan listrik untuk Laptop, Kamera atau Handphone anda. Yang saya miliki seperti di gambar di bawah. Saya dulu membelinya di Ace Hardware dan sampe sekarang saya bersyukur memiliki Universal Converter ini.

Di luar checklist di atas, biasanya saya juga menyiapkan peta subway, aplikasi kamus, aplikasi pencatat perjalanan (trip diary), path logger, GPS, kompas dan musik di smartphone saya, kamera pocket (meskipun saya punya kamera DSLR, tetapi kamera pocket sangat mudah dibawa dan lebih spontan/cepat). Saya juga menyimpan cuplikan testimoni tentang tempat, sarana transportasi, restoran dan lain sebagainya yang saya temukan di Internet di handphone saya.

Jangan juga lupakan vitamin lengkap dan obat-obatan. Di tempat baru anda memerlukan energi dan tantangan daya tahan tubuh yang lebih besar daripada di rumah. Saya sering punya masalah Maag, jadi obat Maag seperti Mylanta tablet (jadi tidak memerlukan sendok untuk meminumnya) pasti selalu saya bawa.

Selamat menikmati perjalanan anda.

 

07 Apr 2011 Trip to Beijing, China – Transfer Time

Sebenarnya ini bukan suatu trip khusus ke China, tapi cuma sekedar ke down town Beijing selagi nunggu pesawat yg akan mengantar saya ke singapore malam ini. Siapa tahu berguna buat anda yg terjebak transit lumayan lama di Beijing. Yupe, saya sedang transit pesawat yang membawa saya pulang dari Mongolia menuju Singapura di Beijing Capital International Airport (BCIA)

Karena ide ke downtown ini terlintas mendadak maka dengan sedikit rush (baca: tabrak sana tabrak sini) saya minta visa sementara yg berlaku harian ke petugas imigrasi China. Saat ini kami tidak punya persiapan khusus, terutama tentang tujuan pasti di downtown Beijing nanti. Jadi saya perlu peta untuk memutuskan mau kemananya.

Berpindah dari Beijing Tourism Information satu ke yang lainnya di dalam gedung terminal 3, tapi tidak ada satupun yg punya peta Beijing. Agak ironis di airport sebesar BCIA ini. Untungnya ada satu petugas yg menunjukkan kepada kami, satu tourism information center di sisi luar yg mempunyai peta yg saya cari itu.

Begitu mendapatkan peta, yang langsung terlihat nama tempat yang layak untuk dijadikan sasaran kunjungan mendadak ini adalah Monumen Tian’anmen dan Forbidden City. Kebetulan di Tourist and Traffic Map Of Urban Beijing yang saya dapat, di sisi atas (utara) dari Forbiden City ada Imperial Food Restaurant. Kebetulan sudah sangat lapar saat itu :) Sebenarnya di luar 2 tempat di atas, masih banyak tempat lain yang bisa anda kunjungi dengan akses menggunakan kendaraan umum yang sangat mudah. Tetapi karena total waktu saya untuk transit hanya 8 jam-an, maka saya putuskan untuk saat ini hanya mengunjungi 2 lokasi itu saja.

Untuk menuju Tian’anmen dan Forbidden City, dari terminal 3 BCIA, saya menggunakan bus airport shuttle dengan tujuan Xidan. Dari Xidan nanti hanya perlu jalan kaki yang kira2 waktu itu saya tempuh dalam waktu 20 menitan. Dari Airport ke Xidan sendiri untuk traffic yang ramai tapi lancar memerlukan waktu kurang lebih 1 jam saja. Saya agak beruntung waktu itu karena cuaca sangat nyaman, suhu di kisaran 10 – 15 derajat celcius dan matahari tidak terik tetapi langit sangat cerah.

Pesawat saya ke Singapura akan boarding jam 11:45 malam ini, jadi saya perkirakan jam 08:00 malam ini saya sudah harus jalan dari xidan menggunakan bus Airport Shuttle. Petugas counter check in SQ (Singapore Airlines) yang saya tumpangi juga menganjurkan yang sama, karena traffic di Beijing kadang2 suka sangat padat.

Singkat kata saya sudah sampai ke Tian’anmen. Di sore hari yang bukan weekend, lapangan dan sekitarnya bisa dikatakan sangat ramai. Saya tidak tahu apakah mereka sedang demo atau tidak saat itu, tetapi yang jelas banyak sekali orang yang berkumpul di sana saat itu.

Tian’anmen Square mengingatkan saya akan Tank-man. Seorang demonstran yang berani menghadang sederetan tank yang mau mengusir demonstran di sekitar Tian’anmen Square pada tahun 1989. Lokasi incident ini sendiri berada di koordinat 39°54’23.5”N 116°23’59.8”E. Silahkan simpan di GPS dan ambil foto di sana kalau anda suka :)

Sayang karena terburu-buru dan sudah terlalu sore kami tidak bisa masuk ke Forbidden City, loket masuk sudah tutup. Mudah2an next visit ke Beijing saya bisa melihatnya dan mengambil beberapa gambar di sana.

Sekitar jam 7:30, setelah foto sana dan sini, say hi ke beberapa orang yang kami temui (terutama para wanita cantiknya :p) kamipun kembali ke tempat Airport Shuttle Bus menurunkan kami dari Airport. Ternyata lokasi menaikkan penumpang dari Xidan menuju Airport (BCIA) berbeda dengan lokasi kami turun. Jadi jangan sampai kecele. Lokasi di Xidan berupa sebuah pool shuttle bus yang berada di dekat Beijing Books Building.

Sebenarnya utk ke arah airport saya ingin mencoba melalui kereta subway beijing. Tetapi teman saya tidak berani ambil resiko terlambat karena nyasar. Padahal menurut saya, peta subway jauh lebih jelas dan pasti, termasuk penamaan stasiun pemberhentiannya. Tidak seperti bis yg bisa tidak konsisten. Walaupun, kadang jg ragu2 apakah semua stasiun pemberhentiannya akan diberi nama menggunakan huruf latin selain china.

Jangan lupa, kalau tujuan anda ke singapore atau jakarta, anda menuju ke terminal 3 BCIA. Kalaupun salah turun di terminal 1 atau 2, anda bisa ambil shuttle bus ke terminal 3 BCIA tanpa bayar. Have a nice trip, happy visiting Beijing.