Dalam sebulan terakhir, saya sangat intens ngobrol dengan beberapa anggota tim saya yang kebetulan semuanya wanita. Beberapa dari mereka minta pengunduran diri, ada yang minta unpaid leave dan juga ada yang sekedar pengen ngobrol karena merasa prestasinya di bawah harapan saya.
Dalam semua obrolan itu, ada satu kata yang selalu diulang-ulang oleh beberapa anggota tim wanita saya, yaitu GALAU.
Sungguh, saya kesulitan menempatkan diri saya di posisi mereka ketika mereka mengatakan “galau” itu. Saya merasa (apabila saya tidak salah mengartikan galau itu) sudah bertahun-tahun yang lalu saya terakhir merasa “galau”.
Galau yang saya tahu timbul karena kita kurang berdisiplin dalam mengatur perasaan kita. Pikiran-pikiran negatif yang pada awalnya kecil dibiarkan berputar-putar di kepala dan hati kita sehingga meng-kikis sisa-sisa konstruksi otak/hati kita yang seharusnya kita pakai untuk berpikir positif atau melakukan sesuatu yang lainnya (seperti memerintahkan kelenjar adrenalin untuk memacu kita sekedar keluar berolahraga, dan lain sebagainya).
Membiarkan pikiran negatif tumbuh seperti membiarkan kanker di dalam tubuh menyebar ke bagian tubuh yang lainnya. Kita merasakan bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi di dalam tubuh kita. Tetapi dengan penuh kesadaran kita malah membiarkannya, kita menikmatinya dan mengatasnamakan proses kenikmatan pembiaran itu sebagai suatu “romantika”, “perasaan”, “penghayatan”, “kontemplasi”, “meditasi” atau apapun. Membenarkan karena berbagai alasan bahwa hidup itu kadang kala harus lepas, tidak ada ikatan. Mengalir seperti air atau terbang ke arah angin membawa.
Jujur saja, saya tidak setuju konsep itu (ok lah, kadang-kadang saya setuju hidup perlu lepas dan biarkan mengalir dalam arti terkontrol dan terbatas). Kita menentukan nasib kita sendiri. Malah sebenarnya kita juga membantu menentukan nasib orang-orang yang kita sayangi (anak, istri, sahabat, dsb).
Ketika saya kecil, ketika saya merasa “tidak nyaman” saya akan menangis. Tetapi orang tua saya, dengan berbagai cara (mulai cara yang paling lembut penuh kasih sampai cara yang keras penuh tekanan fisik) membuat saya diam. Mereka mengajarkan supaya saya tidak terlalu diombang-ambingkan oleh perasaan. Saya harus mampu mengontrolnya.
Yah, begitulah. Tentu saja pendapat saya bukan yang paling benar. Tapi begini adanya yang saya rasa benar saat ini.




Comments