10 Dec 2008 Trip to USA: San Diego – Day 2

Hari kedua di San Diego (Selasa 9 Desember 2008) diawali dengan “bangun” pagi yang cukup semangat pukul 6:30 (terlambat 30 menit dari jadwal yang telah di-alarm-kan, karena malas). Supaya mempunyai energi yang cukup, maka saya dan Anvid membeli sarapan di hotel dengan porsi lumayan banyak. Omelet with bacon + 2 cangkir kopi pahit. Kopinya lumayan enak, sayang omeletnya biasa2 saja.

Pukul 8:30 lebih dikit kami mulai jalan ke Qualcomm building R yang berlokasi di McKellar Court. Di lihat di peta, sepertinya tidak terlalu jauh sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja meskipun sempat nyasar.

Di Qualcomm, kami ternyata sudah di tunggu oleh Jess Dominguezz (entah karena cemas kami nyasar atau karena kami sudah telat, Jess sudah menunggu di depan front office). Sesuai schedule kami dengan Qualcomm yang sudah diarrange via email sebelumnya, memang hari iniĀ  Jess akan memberi kami briefing singkat tentang Brew dan Brew Mobile Platform. Presentasinya cukup menarik. Di tengah2 presentasi, bergabung dengan kami Jason Rinn, yang besok sampai hari Jumat akan menjadi guru Brew kami.

Jess memilik wajah mirip dengan Clark Kent alias Superman, tetapi tampak lebih tirus khas meksiko. Mungkin kalau Meksiko merelease film Superman mereka sendiri, saya rasa Jess cocok menjadi tokoh utamanya. Sementara si Jason lebih terkesan sebagai seorang Geek (as expected). Dia terlihat sangat menguasai Brew sampai detail teknikalnya. Kedua orang ini sangat ramah dan humoris. Tidak ada ketegangan dan pressure selama acara kami di Qualcomm hari ini. Sangat rileks dan informatif.

Briefing oleh Jess selesai sampai kira2 jam 11.00 waktu San Diego. Selanjutnya, dengan nebeng mobil Jess kami ke Qualcomm building N dan T di jalan Morehouse Drive. Double pegal2 kalau jalan kaki lagi. Dengan mobil kami sampai ke gedung N yang juga sebagai pusat dari Qualcomm dalam waktu kurang dari 10 menit. Kami diajak berkeliling area gedung oleh Jess. Sebenarnya ada satu tempat yang menurut saya sangat bagus buat diambil foto, namanya “Patents Wall” di mana di sana ditempelkan berbagai penemuan Qualcomm (baik hasil riset sendiri maupun aquisisi dari pihak lain) yang telah dipatenkan. Sekilas, mungkin ada ratusan patents ada di sana. Setelah selesai berputar2, Jess meninggalkan kami di ruang conference dan training di gedung T. Di sana kami akan bertemu sekali lagi dengan Jason sekaligus untuk melihat sekilas kondisi ruang kelas yang akan kami pakai. Jason memberikan sedikit preview tentang materi untuk 4 hari kedepan sebentar sampai akhirnya kami harus cabut karena kami ada janji makan siang dengan personnel Qualcomm lain yang bernama Sanjeet.

Bersama tutor Brew, Jason Rinn

Bersama tutor Brew, Jason Rinn

Sempat kami dikagetkan oleh suara deru pesawat tempur yang ternyata US Marine base terletak sangat dekat dari sini, tepatnya di Marimar. Kami melewatinya ketika melakukan perjalanan menggunakan bus ke downtown. Saya tidak tahu apakah itu pesawat F-18 yang sama dengan yang diberitakan Fox News yang jatuh di perumahan dekat dengan lokasi kami (di hari yang sama, jamnya mungkin berdekatan).

Di Cafetaria Qualcomm yang sangat besar, yang terletak bersebelahan antara gedung T dan N, kami bertemu dengan Sanjeet dan temannya (saya lupa namanya). Sanjeet mau minta waktu kami selama kami di SanDiego untuk bertemu dengan tim teknikal di belakang BMP (Brew Mobile Platform). Sepertinya kalau hari ini juga, dia tidak bisa maka kami akan meminta waktu ke Jason supaya jumat kami bisa bertemu dengan tim BMP juga. Ternyata Sanjeet orangnya amat sangat jenaka sekali. Dia lumayan mahir berbahasa Indonesia, setelah ditanya Anvid di mana dia belajar basa Indonesia dia mengaku kalau dia orang Pasar Baru, Mumbay Textile.. begitu katanya. Walah, ternyata.. dia India yang jualan kain di Pasar Baru toh.. weleh weleh weleh..

Acara di Qualcomm hari itu pun selesai dan sesuai rencana kemarin kami mau downtown siang ini setelah makan siang. Kami mampir di “Fine Mexico Food” untuk lunch. Sekedar coba2 dan memilih secara random sih. Kami memilih menu “2 chickens tacos” masing2 plus susu untuk saya (sehat bener yah minumnya) dan coke untuk Anvid. Sizenya seperti biasa amat sangat besar sekali dan ciri makanan Amerika yang agak eneg dan penuh lemak (makanya mayoritas penduduk Amerika mempunyai masalah dengan overweight).

Untuk ke downtown, kami memilih naik bus (route nomor 921) menuju Black Mountain Road kemudian pindah ke halte yang menuju selatan dan melanjutkan menggunakan bus route nomor 20 berhenti di 10th Avenue (downtown). Harga tiket one way adalah US$ 2.25 dan kita bisa membeli tiket untuk satu hari (bisa dipakai ke banyak jurusan asal dalam hari yang sama) seharga US$ 5. Langsung di sana kami berputar2. Selama di dalam bus saya memperhatikan kalau penumpang bus ini kebanyakan adalah masyarakat menengah ke bawah terutama untuk bus ke arah downtown. Tampak dari pakaian seragam yang mereka pakai, cara berpakaian dan juga cara bicara. Selain itu juga banyak imigran dari filipina dan asia lainnya. Hal ini sangat bertentang dengan orang2 yang berhubungan dengan kami di daerah kami tinggal selama di sini (kami lebih senang menyebutnya Qualcomm Town daripada San Diego, karena gedung2 Qualcomm menyebar di seluruh daerah kecil ini yang merupakan bagian dari San Diego – bahkan sempat memberi ide supaya salah satu jalan diberi nama “Brew Boulevard”). Mereka sangat “the have” sekali, pakaian bagus, mobil ber-cc besar, manner dan cara bicara yang sangat terpelajar.

Orang2 di San Diego bisa dikatakan sangat ramah (walaupun beberapa ada yang aneh). Terutama yang cukup membuat kami terkesan adalah attitude mereka dalam mengemudi yang jauh lebih bagus daripada yang saya alami waktu di Singapura.

Trolley MTS khas San Diego

Bangunan berarsitektur tua di San Diego

Sudut2 downtown San Diego

Sampai di Downtown saya dan Anvid (terutama Anvid – apabila nemu daerah seperti ini, yang benar2 perlu dipotret bersama dengan suasananya, seakan2 pocket camera tdk berguna :( ) sibuk memotret beberapa daerah. Mulai dari berbagai gedung dengan arsitektur yang unik (beberapa bisa dikatakan berarsitektur tua), Trolley dan Bus MTS khas San Diego, Sampai gedung2 modern.

Lumayan lama waktu yang kami habiskan muter2 di downtown San Diego. Kami juga sempat mampir di Romantix untuk membeli beberapa stuff untuk permainan saya dan istri (he he he, dari namanya bisa ditebak ini toko apa kan?), Sport Palace (saya membeli beberapa pakaian olah raga baseball – favorit masyarakat San Diego – bertuliskan logo club setempat dan sepasang bat + bola untuk hiasan kamar anak pertama saya) serta beberapa toko barang2 menarik lainnya yang akhirnya kami tidak beli juga (karena barangnya tidak menarik atau karena harganya melebihi budget kami).

Di Sport Palace kami di bantu oleh pelayan yang tinggi besar bernama Jhon. Dia adalah keturunan Irak yang sudah 27 tahun tinggal di sana. Dia tidak mau dikatakan sebagai orang Irak lagi sekarang .. “I am American”.. kata dia mengkonfirmasi :) Jhon membantu kami mencari souvenir yang berbau baseball dan San Diego dengan gaya slengekan khas American baseball nya.

Menjelang malam kami berpose sebentar di depan stadium kebanggaan orang San Diego yang bernama Petco Park. Lumayan ok, sayang waktu kami sampai sudah mau ditutup.

Semakin malam suasan San Diego semakin menyenangkan dan indah.Kami juga tidak lupa untuk mampir di Gaslamp, pusat belanja dan makanan (lebih tepatnya sebagai pusat nongkrong) San Diego. Gaslamp quarter adalah tempat yang sangat cozy buat nongkrong. Wanita2 yang cantik bertebaran di sana :) Beberapa cafe dan restoran mewah tampil dengan gaya interior yang unik dan cozy, begitu juga pelayannya yang terlihat sangat profesional. Begitu juga tamu2nya, beberapa wanita tampil sangat cantik tetapi berkelas (duh, napa wanita mulu yah yang dilihat .. maaf, saya masih tertarik melihat wanita daripada pria).

Tempat makan dengan pelayan ber-under wear saja

Tempat makan dengan pelayan ber-under wear saja

Karena kecapekan kami istirahat di taman seberang San Diego Convention Center. Cukup bagus.. dan enak buat nongkrong.

Tidak terasa malam sudah semakin larut dan kaki kami juga sudah pegal. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Horton Plaza. Ramai juga Plaza ini. Sempat mampir ke toko buku untuk membeli Scrabble buat istri (karena udah lama pengen punya, kebetulan harganya sama dengan di Indonesia tapi lebih bagus) dan beberapa oleh2. Desain Horton Plaza memiliki tangga yang sangat banyak dan tidak beraturan, jadi kami sering mencari-cari di mana tangga untuk turun atau naik. Menurut Anvid, Plaza ini merupakan bangunan lama yang bersejarah. Suasana Natal terasa sekali di sini, tapi sepertinya diskon Natal belum di mulai. Santa Klaus juga sudah membuka dagangannya di Plaza ini. Sebenarnya pengen berfoto sama Santa, tapi saya takut dia tidak mau memangku saya.

Setelah dari Horton Plaza kami memutuskan untuk pulang karena sudah pegal. Rencana untuk ke Harbour terpaksa kami undur di hari Sabtu.

Sebenarnya masih banyak cerita dan foto, tapi capek juga nulis & menguploadnya :)

Tips.

1. Di San Diego yang namanya taksi kadang susah dicari. Begitu melihat tempat berkumpulnya taksi, selalu ingat2 di mana itu dan begitu butuh tempat itulah yang harus segera anda tuju. Kalau anda beruntung, di perjalanan ke sana bisa dapat taksi terlebih dahulu.

2. Di daerah kami tinggal, sekitar Mira Mesa Boulevard dan Pacific Heights, hanya sedikit orang yang tahu informasi tentang Bus MTS (schedule, harga, dll). Datangi aja halte bus terdekat, berupa kursi panjang untuk 4 orang biasanya, di sana tertempel semua informasi yang dibutuhkan. Hanya saja di sana tidak ada informasi Halte ini ke arah mana (untuk jalan 2 arah). Misalnya di Halte Black Mountain Road, kami mau ke selatan, maka kami harus pindah ke Halte lain. Kalau ragu, sebaiknya tanya sebelum masuk ke Bus atau ke orang yang terpercaya di sekitarnya.

3. Minta peta ke Hotel. Harus ini …

4. Untuk membeli barang, bandingkan harganya dengan harga barang yang sama dalam mata uang Rupiah di Indonesia. Pastikan sama atau lebih murah. Kecuali anda orang yang sangat berkecukupan. Kalau lebih mahal, pikir ulang apakah worthed untuk membelinya.

5. Ketika membeli pakaian (sepatu, kaos, dll), lihat dulu dibuat di mana pakaian itu terutama untuk merk Nike. Karena ada beberapa pakaian ternyata made in Indonesia. Kalau seperti itu, mending beli di Indonesia aja deh, lebih murah.

@Terima kasih banyak ke Anvid untuk foto2nya. Jagolah motretnya, ntar pinjemin kamera SLR nya lagi yah.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

10 Responses

  1. 1
    Susy Ardin 

    Seru banget yaaa,fotonya juga bagus,lebih bagus lagi kalo ada foto Superman dan foto pelayan ga pakai under wear pasti seruuuuuuu……
    Go Guys take you time….puas2 in yaaaaa

  2. 2
    Rachmat 

    hahahaha… HOOTERS… My Favorite Restaurant…..

  3. 3
    chandra 

    Kapan2 kita mampir ke sana lagi yuk.. cuma cari makan aja sih? :D

  4. 4
    fx3 

    Boleh dibawa pulang gak yah pelayannya ? ;D

  5. 5
    JokerJester 

    HI…..bisa minta tolong ngga.
    berapa banyak sih bawa uang untuk survive disana….?:”>

    soalnya mau datangin fiance nihhhh….

    ummm, orang indonesia khan sulit bikin visa untuk ke USA…di reject terus, terus mas nya ada tip n trick ngga buat yang satu ini.

    terimakasih…

    kalau bisa email saja ke saya
    jokerjester82@yahoo.com

    jawabannya sangat saya tunggu…

  6. 6
    JokerJester 

    NB: tepatnya di San diego, Ca, USA…:D

  7. Maaf baru balas, abis jalan2 di Bali :p.

    Kalau jumlah uang berapa pasnya aku kurang tahu yah. Di luar hotel dan transport indo – us, aku sih dulu cuma bawah 10 juta rupiah dan nggak kepakai semua (emang ngirit alias pelit sih orangnya).

    Nah, tips untuk visa.. emang agak2 susah tuh visa US. Kadang2 aku ngira mereka nolaknya pake feeling aja daripada data :p, kalau keliatan agak2 nggak “OK” gitu langsung aja direject, apalagi kalau agak2 terlihat “muslim garis keras” gitu. Bukannya SARA banget nih yah, tapi mereka kan lagi takut2nya ama teroris nih. Suer temenku ini baik banget dan gak ada pemikiran jelek tentang agama lain.

    Yang jelas buat visa, bawa aja buku tabungan (semuanya), slip gaji (seperti aku ternyata dimintain), KTP, Kartu Keluarga (aku gak dimintain, tapi temanku dimintain), ada yang sampe bawa sertifikat rumah segala lho. Kalau ada surat tugas dari kantor harus di bawa (pengantar dari company di Indonesia dan dari US juga), ini yang paling dilihat waktu aku interview.

    Good luck with your fiancee.. :)

    NB: Udah aku notify via email yah.

  8. 8
    JokerJester 

    Thanks….:D

  9. 9
    Xcellent 

    halo,
    enak nya yang uda dapet visa bisa jalan2 kesana..
    itu acara kantor ya???atau holiday sendiri..

    gak ada cara yg lbh gampang utk dapet visa ya?
    thx.

  10. Halo,

    Itu acara kantor sebenarnya, training. Tapi sekalian aja kami jalan-jalan :)

    Untuk dapat visa, cara seperti itu sudah standar kok. Sebenarnya tidak terlalu susah dan ribet kok.

    Salam.

Leave a Reply