06 Dec 2008 Trip to USA: Jakarta – LA – San Diego

Pagi hari kemarin, jam 4 pagi jalan dari rumah. Sangat pagi buat saya, karena untuk re-check persiapan perjalanan saya dan lain2, nyaris saya hanya tidur 2 jam kurang. Tetapi saya sangat excited dan sudah rindu sama anak2 dan istri di rumah. Seandainya bisa mengajak mereka juga.

Dari rumah ke Cengkareng hanya makan waktu 1,5 jam. Langsung ketemu Anvid di terminal keberangkatan internasional. Sebenarnya ingin sarapan pagi dulu di McD terminal internasional ternyata masih tutup. Kami langsung check in dan ngantri untuk boarding.

Sebelum checkin akan ada petugas yang memeriksa bukti pembayaran Fiskal dan Passport. Jadi sebelum ke petugas tersebut, pastikan mampir di booth BUKOPIN untuk membayar Fiskal di sana. Rp. 1 juta untuk keluar negeri via udara. Mudah2an tahun depan sudah tidak bayar lagi untuk pemilik NPWP :)

Oh iya, jangan pernah membawa air lebih dari 100 ml ke dalam boarding room karena akan diambil oleh petugas bandara. Tadi pagi sempat dibawain air minum vitamin C fresh dari lemari es (kalau tidak salah ukurannya 250 ml) akibatnya pagi2 saya harus menghabiskan minuman dingin itu. Terpaksa nongkrong dulu di luar boarding room sambil install beberapa aplikasi Brew yang diperlukan untuk trainning di US nanti. No worried dengan licensed software di PC. Thanks to Pak Bagus yang mau repot2 membantu saya mengurus license2 software di laptop saya, terutama OS Windowsnya.

Kami pergi menggunakan China Airlines (dengan pesawat Airbus, entah tipe yang mana) pagi itu. Semua boarding pas pesawat dari Jakarta sampai San Diego di cetak di Cengkareng oleh petugas China Airlines. Sebagian besar penumpang berbahasa cina dan sepertinya merea memang bertujuan ke Hongkong atau Taiwan. Jam 06.05 kami boarding dan tidak lama kemudian pesawat kami berangkat menuju Hongkong.

Jam 11:30 an waktu Jakarta (jam masih menggunakan waktu Jakarta nih) kami sampai di Hongkong. Di Hongkong kami hanya transit sebentar (kurang lebih 1 jam) padahal kami ingin jalan2 lebih lama di sini. Kami masih sangat fit dan happy. Hongkong dari udara terlihat “cakep”. Airport bersebelahan dengan pantai dan kotanya cukup megah dan teratur. Ketika kami mau masuk ruang boarding, seperti di Indonesia, kami juga perlu melewati pemeriksaan oleh petugas setempat. Selalu siapkan paspor dan tiket setempat ke tujuan berikutnya. Di ruang pemeriksaan, saya sempat diserobot oleh TKW dari Indonesia :) Jujur aja karena ulahnya, saya jadi malu ke petugas pemeriksa di sana … dalam hati saya berkata “maaf om, dia mah babu makanya attitudenya asal serobot gitu”. Duh..

Sejam kemudian kami dah terbang lagi menuju Taipei – Taiwan menggunakan pesawat yang sama dengan yang kami naiki dari Jakarta dan juga masih dengan nomor tempat duduk yang sama dengan yang sebelumnya. Perjalanan tidak lama, kira2 1 jam. Airport Taipei terkesan dingin, kaku dan sepi. Desain lorong2 serasa mirip Juanda – Surabaya (lantai, kaca, dan tembok2nya) tetapi jauh lebih besar dan sepi. Sempat bertemu dengan seorang ibu dari Jakarta yang terlihat kecil dan terburu2. Dia sendiri saja. Saya samperin dah say hi sebentar. Ternyata dia juga mau ke LA. Dia sudah sering melakukan perjalanan Indonesia – US sendirian berkali-kali, tanpa teman. Saya tidak bertanya tentang keperluan dia di LA, tidak mau terlalu turut campur tentang kehidupan dia, meskipun sebenarnya saya selalu pengen ngobrol dengan banyak orang saat itu.

Di Taiwan, kami hanya berhenti 1 – 2 jam saja dan langsung menlanjutkan perjalanan kami ke Los Angeles (LA). Kali ini kami menggunakan pesawat dengan nomor badan yang berbeda, masih menggunakan Airbus tetapi kali ini tipe pesawat yang jauh lebih besar (masih sama, saya tidak tahu tipe pesawatnya). Perjalanan ke LA ditempuh dalam waktu 11 – 13 jam. Amat sangat panjang dan membosankan, selain itu posisi tempat duduk terasa lebih sempit. Berkali2 saya lihat panduan GPS di sandaran kursi depan saya, posisi pesawat masih saja di atas samudra pasifik. Kira2 ETA kurang dari 3 jam, saya jatuh tertidur sampai saya mendengar pramugari berteriak-teriak menanyakan apakah kami US Citizen. Saya jawab bukan dan saya menerima form yang dikenal dengan form I-94. Saya sebenarnya sudah menunggu pembagian form ini karena sebelum keberangkatan saya membaca salah satu blog yang menceritakan tentang form ini. Form ini harus diisi lengkap selengkap2nya.  Selain itu ada form lain yang menanyakan apakah anda membawa tanaman, hewan, atau apakah anda sebelum kesini pernah ber-”sentuhan” dengan livestock (dan belum cuci tangan?).. dan seterusnya. Selain itu anda juga ditanya apakah membawa barang dan uang senilai lebih dari US$ 100.000 (atau US$ 10.000? agak lupa nih). Hmmm.. cash saya bahkan kurang dari US$ 1.000 saat itu. Yang tentu saja juga harus anda isikan adalah no Paspor, dari mana anda berasal sebelum masuk ke US dan pesawat penerbangan yang anda pakai.

Jam 12 siang waktu setempat, saya sampai di LA. Very big airport tapi sangat standar keindahannya. Seperti dugaan saya setelah ketemu dengan petugas imigrasi di pemeriksaan pertama, saya dan teman saya di bawa ke ruang pemeriksaan lain yang berkesan lebih “intensif”. Di sana kami harus antri lama. Kira2 45 menit, nama saya dipanggil. Saya akan diinterview oleh pria keturunan meksiko berseragam imigrasi. Dia menanyakan form NSeer (mudah2an tidak salah penulisannya) yang ternyata saya tidak punya. Dia bilang seharusnya petugas di depan memberikannya ke saya dan saya harus mengisinya sebelum bertemu dia. “She didn’t give me anything.. “, jawab saya. Akhirnya dia ke depan mengambilkan saya form itu. Saya sekalian memintakan buat Anvid. Dia tampak sewot karena harus bolak-balik ke depan lagi.”Sori om..”, batin saya. Sempat petugas dari China Airlines memanggil kami karena kami belum mengambil tas kami di bagasi. Akhirnya tas di letakkan di depan (mudah2an tidak ilang..)

Karena form itu belum lengkap, terpaksa saya harus mengantri lagi. Total mengantri sampai benar2 diproses kurang lebih 1,5 jam. Benar2 bikin capek. Kemudian saya dipanggil oleh petugas yang berbeda dan dia mengajak saya keluar dari ruangan. Dia menginterview saya dari booth yang di depan tempat pemeriksaan saya pertama saya. Dia bilang di ruangan terlalu penuh dan saya akan antri lama di sana.

Sepertinya semua petugas di sana dilatih untuk menginterview dengan tegas, serius dan jujur saja agak tidak ramah/menyenangkan. Meskipun tidak sampai membuat emosi sih. Lucky me, petugas yang memeriksa saya cukup humoris dan menyenangkan. Pemeriksaan memerlukan waktu 30 menit – 1 jam, dan selalu dipenuhi dengan joke :) Pemeriksaan standar saja, karena di semua “bad” list mereka tidak ada nama saya. Di akhiri dengan “sumpah” bahwa data saya benar. Ternyata Anvid lebih cepat dari saya dan dia sudah menunggu di tempat pengambilan bagasi.

Selanjutnya, kami pindah ke terminal 4 karena kami harus pindah maskapai ke American Airlines. Terminal 4 terlihat lebih kumuh dan kacau. Bahkan bisa dikatakan lebih bagus Cengkareng. Bagasi kami berikan ke Officer yang bertugas di sana untuk diproses dan kami segera checkin. Anvid sempat kelaparan dan mengajak saya mencari food court. Tetapi di sana sulit sekali mencari food court, sampai kami diberitahu oleh petugas di sana bahwa ada foodcourt di area setelah saya checkin alias boarding room (bukan room sih, tapi area.. karena luas banget).

Untuk menuju ruang boarding, kita harus melewati ruangan yang lumayan ketat:

Pertama pemeriksaan ID dan tiket. Yang memeriksa seorang cewek berkulit hitam, pendek, luar biasa gemuk, bibir tebal dan rambut dikelabang ala negro (kalau di film, tipe seperti dia biasanya jadi korban pelecehan seksual he he he.. maaf mbak, guyon lho..). Dia selalu teriak2 dengan kencang dan cara ngomong yang agak selengekan. Ketika Anvid sampai di depan dia dan lupa belum menyiapkan Passpor, seolah Anvid tidak ada dia berteriak ke kami yang beberapa langkah di belakang Anvid “I said ‘ID and boarding pass’…. your passport is your ID..”. Damn.. napa mesti sebegitunya sih.. anjrit nih cewek, kan kebetulan Anvid gak denger tadi.. habis 24 jam penerbangan gitu lho, kan capek banget.

Kedua, pemeriksaan barang bawaan lewat Sinar X. Semua orang di sana harus melepas jacket sampai sepatunya. Agak geli saya melihat mereka pada terburu-buru melepas jacket dan sepatu, melewati scanner, kemudia terburu-buru lagi memakainya. Untung tidak disuruh melepas celana dan baju juga .. he he he (I know you think that I think about it). Laptop tidak boleh di dalam tas, tetapi harus dikeluarkan dan ditaruh di box yang sudah disediakan. Begitu juga dengan ikat pinggang. Petugas akan menyuruh kita balik lagi keluar kalau alarm sensor logam berbunyi. Mereka tidak mau repot2 menggeledah. Pokoknya bunyi petugas (saat itu seorang nenek2 kulit hitam, rambut penuh uban.. yang saya pikir nih orang pasti neneknya petugas cewek tadi – benar2 seperti di film deh) akan menyuruh kita keluar lagi dan taruh barang yang bikin bunyi di Box terus masukin ke penindai sinar X. Menjengkelkan sekali. Setelah melewati sensor logam, kami harus terburu-buru memakai sepatu, jacket, memasukkan laptop dan yang bikin agak lama adalah memakai ikat pinggang. Semua orang melakukannya .. dan .. bikin geli sih.

Kami nongkrong dulu di starbuck untuk mengisi perut dengan Muffin big size dan teh panas yang juga big size. Selanjutnya kami pindah ke gate 44F menggunakan bus (lumayan jauh sih). Kira2 jam2 6:30 kami masuk pesawat American Airline yang kecil dan sempit (seluas bus, dengan 2 row kursi di sebelah kiri dan 1 row di sebelah kanan) yang akan membawa kami ke San Diego. Di pesawat saya langsung jatuh tertidur saking capeknya. Ketika di atas San Diego, saya terbangung dan mendapati betapa San Diego sangat bagus dari udara di malam hari. Sayang Anvid menaruh kamera SLR nya di atas, menggunakan kamera pocket saya tidak bisa menangkap panoramanya.

.

.

.

Kira2 jam 7:30 kami keluar dari Airport San Diego dan menunggu taksi. Di Airport San Diego kami bertemu dengan kira2 6 orang pemuda dari Indonesia. Mereka kerja di kapal pesiar. Salah satu dari mereka belum menemukan tasnya yang mungkin terbawa oleh pesawat ke San Diego berikutnya (dari LAX juga). Selain mereka ada juga cewek bule, berdada besar dan agak “terbuka” juga belum mendapatkan tasnya. Saya kira tas saya juga akan nyusul, tetapi ternyata malah sudah di sana sebelum saya nyampe. Tapi saya tidak tahu kalau nama saya sudah dipanggil (karena keterbatasan jumlah karakter yang bisa dimasukkan, di tag bag saya tertulis nama saya FRANCIS dan PAWITR).

Dari Airport sampai Hotel Woodfin Suite, kami harus membayar US$ 45. Lumayan jauh. Untung hotelnya cukup enak, sehingga capek hari itu bisa terbayar. Setelah makan malam, mandi saya langsung tertidur dari jam 10 malam sampai jam 2:30 keesokannya. Sempat terbangun karena ada cleaning service yang masuk :p Sebenarnya dia sudah mengetuk pintu, tapi karena masih capek.. saya malas untuk membukanya.

Good night world :)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses

  1. 1
    yessy 

    pak channnnn……

    take care ya di sana :)
    oleh2 nya jangan lupa >.<”

  2. 2
    dijedodol 

    pak channnnnnn… oleh2nya ye :D yg sexy2 :D hehehee…

    di periksa di tanyain apa aja sich @_@

  3. 3
    chandra 

    He he he, Makasih makasih. Oleh2 akan diusahakan.

    Yang sexy2 tadi dah liat tapi gak mau dimasukin tas.. kan repot bawanya :p

  4. 4
    fx3 baca: fikri 

    Bole juga di post pertanyaan2nya selama diairport tuh pak, sapa taw bisa jadi pedoman buat yang pertama kali kesana hehehe :D

Leave a Reply